Saat ini, batu bara memegang peranan krusial dalam menyokong 56% pasokan listrik di Asia, dan harganya yang relatif stabil menjadi andalan untuk menekan biaya produksi di tengah gejolak ekonomi global.
Dukungan Trump terhadap konsep "batu bara bersih" melalui deregulasi juga membuka ceruk pasar baru di kancah internasional.
Meskipun negara-negara maju terus berupaya meninggalkan ketergantungan pada batu bara demi energi yang lebih ramah lingkungan, permintaan di kawasan Asia, terutama negara-negara berkembang, diprediksi akan tetap tinggi dalam beberapa tahun mendatang.
Dengan demikian, kebijakan Trump ini tidak hanya berdampak pada pasar domestik AS, tetapi juga menciptakan efek domino yang sangat menguntungkan bagi eksportir utama seperti Indonesia.
Indonesia kini berpeluang besar untuk meraup keuntungan berlipat ganda dari "harta karun" batu bara ini.(*)
Artikel Terkait
Bukan Sekadar Tarif, Tapi 'Balas Dendam'? Trump Ungkap Alasan di Balik Pajak Impor 32% ke Indonesia!
Makin Absurd: Kebijakan Dagang Trump Sasar Pulau Penguin Tak Berpenghuni!
ASEAN Bersatu Sikapi Kebijakan Tarif Trump yang Mengancam
JK Tegas: Makan Bergizi Gratis Bukan 'Tameng' Hadapi Gempuran Tarif Trump
Pembukaan Pasca Lebaran Berdarah: IHSG Anjlok 9,16 Persen, Pengamat Soroti Perlawanan 50 Negara pada Tarif Impor Trump
Sri Mulyani Skakmat Kebijakan Tarif Resiprokal Trump: Semua Ekonom Angkat Tangan!
SBY Bongkar Taktik Prabowo Hadapi 'Trump Effect': 'Dual Track Strategy' Andalkan ASEAN dan Diplomasi
Luhut Beri Garansi: Indonesia Tak Perlu Panik Tarif Trump! Pengalaman Kita Hadapi Krisis Sudah Segudang!
Indonesia Optimis Hadapi Gelombang Tarif Trump: Fondasi Ekonomi Disebut Solid
Sri Mulyani Tegaskan APBN Aman dari Kebobolan di Tengah Kebijakan Tarif Kontroversial Trump