nasional

Gus Miftah Kembali ke DNA Dakwah: Gelar Buka Puasa dan Tausiah di Colosseum Jakarta, Sentuh Hati Pekerja Dunia Malam

Rabu, 25 Februari 2026 | 08:33 WIB
Gus Miftah Buka Puasa Bareng Pekerja Colosseum Jakarta, Kembali Berdakwah di Klub Malam

Sulawesinetwork.com – Miftah Habiburrahman, atau yang lebih dikenal sebagai Gus Miftah, kembali menunjukkan jati diri dakwahnya yang inklusif dan merangkul.

Pada Selasa (24/2/2026), dai nyentrik ini menyambangi salah satu pusat hiburan malam ternama, Colosseum Jakarta dan 1001 Hotel, untuk menggelar buka puasa bersama para pekerja di sana.

Langkah ini seolah menjadi simbol kembalinya Gus Miftah ke "habitat" dakwah yang membesarkan namanya dengan menyapa mereka yang sering terlupakan dan berada di ruang-ruang marjinal.

Baca Juga: Ricuh di Mapolda DIY: Massa Gelar Salat Gaib dan Jebol Pagar, Polisi Bantah Gunakan Gas Air Mata

Di tengah gemerlap lampu klub malam yang pernah masuk jajaran Top 100 Clubs dunia tersebut, Gus Miftah menyampaikan pesan spiritual yang menyentuh.

Ia mengingatkan para pekerja bahwa rahmat Tuhan selalu terbuka bagi siapa saja tanpa terkecuali.

“Allah tidak memanggil manusia dengan sebutan 'wahai pendosa', melainkan 'wahai hamba-Ku',” tegas Gus Miftah di hadapan ratusan pekerja.

Baca Juga: Momen Bersejarah! Ribuan Jamaah Buka Puasa Bareng Program Raja Salman di Masjid Kubah 99 Makassar, Gubernur Sulsel: Semoga Berkah

Pesan ini bertujuan untuk memberikan penguatan agar mereka tidak merasa terasing dari agama.

Gus Miftah menekankan pentingnya menghargai setiap proses kecil dalam kebaikan, termasuk berhenti sejenak dari rutinitas pekerjaan dunia malam untuk berefleksi.

Dalam tausiahnya, pengasuh Pondok Pesantren Ora Aji ini kembali menceritakan kisah ikoniknya saat mendatangi lokalisasi.

Baca Juga: Gubernur Andi Sudirman Tegaskan Tak Ada Izin Investasi Perusahaan Afiliasi Israel di Sulsel: Itu Hoaks!

Ia seringkali memberikan kompensasi kepada pekerja agar mereka berhenti bekerja walau hanya satu malam.

“Kalau berhenti satu malam saja itu berhasil, kenapa kita tidak menghargai proses? Dakwah seharusnya hadir dengan empati, bukan penghakiman,” ujarnya.

Halaman:

Tags

Terkini