Menurutnya, orang yang dianggap "ahli maksiat" seringkali melihat orang saleh dengan penuh harapan, sehingga tidak seharusnya dibalas dengan stigma atau pandangan rendah.
Momen ini juga dimanfaatkan Gus Miftah untuk merespons berbagai kritik yang sempat menerpanya beberapa waktu lalu.
Dengan tenang, ia mengaitkan hal tersebut dengan ujian keimanan.
“Manusia punya kendala, Allah punya kendali. Jika Allah mencintai seorang hamba, maka Dia akan mengujinya,” ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa ujian tersebut justru menjadi pemacu baginya untuk lebih banyak berbagi, termasuk meningkatkan jumlah orang yang diberangkatkan umrah gratis melalui programnya.
Meskipun kehadirannya di klub malam kerap memicu pro-kontra, Gus Miftah tetap teguh pada prinsipnya bahwa dakwah tidak boleh mengenal batas tempat.
Baginya, jika orang-orang di masjid sudah rajin beribadah, maka harus ada dai yang mau menjemput bola ke tempat-tempat yang jarang disentuh oleh nilai-nilai agama.
Kegiatan buka puasa bersama di Colosseum Jakarta ini menjadi bukti bahwa di ruang hiburan malam sekalipun, refleksi spiritual tetap bisa tumbuh dan menyatukan berbagai lapisan masyarakat dalam semangat Ramadan.(*)