"Setiap buah durian yang sampai ke pasar, diangkat dengan cucuran keringat, nyawa, dan air mata," tulisnya penuh haru.
Salah satu pemandangan paling menyayat hati adalah aksi para kuli panggul yang harus menyeberangi derasnya Krueng Peusangan.
Sherly mencontohkan perjuangan seorang kuli bernama Bule. Dengan tubuh kecilnya di tengah guyuran hujan, ia harus hilir-mudik menyeberangi sungai hanya bermodalkan lumpe—seutas kabel baja yang ditopang bambu sederhana.
Tanpa pengamanan memadai, para pejuang keluarga ini rela mempertaruhkan nyawa di atas jurang sedalam puluhan meter.
Baca Juga: Gubernur Andi Sudirman Pimpin Penyaluran Donasi Rp1,2 Miliar dari Bone untuk Korban Bencana Sumatera
Risiko jatuh ke sungai atau tebing curam menjadi makanan sehari-hari hanya agar dapur di rumah tetap mengepul.
Kisah durian Ketol ini menjadi pengingat keras bagi publik dan pihak terkait bahwa pemulihan pascabencana bukan sekadar soal bantuan pangan, melainkan pemulihan akses jalan.
Tanpa jembatan yang layak, ekonomi warga di pedalaman Aceh Tengah akan terus tergerus oleh tingginya biaya logistik dan risiko kehilangan nyawa.(*)