Tak hanya itu, China juga menuduh AS melakukan "intimidasi dan pemaksaan sepihak."
"Pemberlakuan tarif yang sangat tinggi oleh AS terhadap China secara serius melanggar aturan perdagangan internasional dan ekonomi, hukum ekonomi dasar, dan akal sehat, serta merupakan intimidasi dan pemaksaan sepihak," tegas Kementerian Keuangan China.
Aksi saling balas tarif yang semakin brutal ini sontak memicu kekhawatiran di pasar global. Eskalasi perang dagang antara dua kekuatan ekonomi terbesar dunia dikhawatirkan akan memberikan dampak negatif yang meluas terhadap pertumbuhan ekonomi global dan stabilitas pasar keuangan.
Para analis kini bersiap untuk memantau dampak lebih lanjut dari "perang tarif" jilid terbaru ini.(*)
Artikel Terkait
IHSG Anjlok 9,16 Persen, Pemerintah Didesak Bergerak Cepat Selamatkan Ekspor dari Efek Tarif AS
Sri Mulyani Skakmat Kebijakan Tarif Resiprokal Trump: Semua Ekonom Angkat Tangan!
Luhut Beri Garansi: Indonesia Tak Perlu Panik Tarif Trump! Pengalaman Kita Hadapi Krisis Sudah Segudang!
Indonesia Optimis Hadapi Gelombang Tarif Trump: Fondasi Ekonomi Disebut Solid
Sri Mulyani Tegaskan APBN Aman dari Kebobolan di Tengah Kebijakan Tarif Kontroversial Trump
Bom Waktu Perdagangan Global Meledak: Tarif Resiprokal Trump Berlaku, Impor China ke AS Meroket 104%!
Australia Gigit Jari! Larang Daging Babi AS, Langsung Dihantam Tarif Resiprokal Trump 10%
Kejutan Pasar! IHSG Terbang 5,5 Persen Pagi Ini, Efek Trump Tunda Tarif Impor
BREAKING! Trump Tunda Tarif Impor Jilid II ke 75 Negara, Tapi Gebuk China dengan Tarif 125%!
Australia Tegas Tolak Ajakan China Lawan 'Perang Tarif' Trump! Pilih Diversifikasi Dagang