- Verifikasi masuk dalam desil 1 DTSEN
- Tes potensi akademik dan psikotes
- Home visit (kunjungan ke rumah) untuk memastikan kondisi sosial ekonomi
- Wawancara dengan orang tua
- Pemeriksaan kesehatan
Jika kuota masih tersedia, anak-anak dari desil 2 akan diberikan kesempatan untuk mendaftar.
Guru Berkualitas dari PPG, Kurikulum Nasional
Baca Juga: Pengadilan Militer Bebaskan 3 Oknum TNI AL dari Kewajiban Ganti Rugi, Ini 5 Alasannya
Untuk memastikan kualitas pendidikan yang baik, Sekolah Rakyat akan menggunakan kurikulum nasional, sama seperti sekolah-sekolah formal lainnya.
Tenaga pengajarnya pun dipilih dari lulusan Pendidikan Profesi Guru (PPG). Gus Ipul menyebut bahwa lebih dari 50 ribu lulusan PPG luar jabatan akan direkrut untuk mengajar di Sekolah Rakyat.
“Kami prioritaskan guru-guru PPG yang ada di sekitar lokasi Sekolah Rakyat, sehingga mereka bisa langsung berkontribusi dalam program ini,” ujar Gus Ipul.
Baca Juga: SKCK: Momok Bagi Mantan Napi, Beban atau Kebutuhan?
Saat ini, 211 titik telah diusulkan untuk pembangunan Sekolah Rakyat. Dari jumlah tersebut, 164 titik berasal dari usulan pemerintah daerah, dengan rincian 38 titik berupa bangunan dan 126 titik berupa tanah yang siap dibangun.
Kementerian Sosial juga akan bekerja sama dengan Kementerian Pekerjaan Umum (PU) untuk melakukan survei kelayakan lokasi sebelum pembangunan dilakukan.
“Kami masih membutuhkan waktu untuk memastikan setiap titik layak dijadikan Sekolah Rakyat,” tambah Gus Ipul.
Masa Depan Pendidikan yang Lebih Baik
Program Sekolah Rakyat ini menjadi langkah konkret dalam memastikan setiap anak di Indonesia mendapatkan akses pendidikan yang layak, terutama mereka yang berasal dari keluarga kurang mampu.
Dengan pendidikan gratis, fasilitas asrama, dan tenaga pengajar berkualitas, diharapkan para siswa Sekolah Rakyat dapat memiliki masa depan yang lebih cerah dan siap bersaing di dunia kerja maupun akademik.
"Sekolah ini bukan hanya tempat belajar, tetapi juga menjadi jembatan bagi mereka yang ingin keluar dari jerat kemiskinan melalui pendidikan," pungkas Gus Ipul. (*)