Hasan bahkan memberikan contoh lain untuk memperkuat argumennya. "21 Juni, Bung Karno wafat. 21 Juni, Presiden ke-7 Indonesia lahir, kalau cocoklogi bisa panjang tuh," jelasnya.
Ia pun mengingatkan bahwa sama halnya dengan 21 Juni, masyarakat bisa memperingati 17 Oktober sebagai Hari Kebudayaan Nasional, atau jika ingin, sebagai hari lahir seseorang.
"Jadi kita mulai belajar menghindar dari cocoklogi dan otak-atik gathuk," tandas Hasan Nasbi.
Dengan penjelasan ini, diharapkan masyarakat dapat memahami dasar pertimbangan pemerintah dalam menetapkan 17 Oktober sebagai Hari Kebudayaan Nasional, yang sesungguhnya berakar pada nilai sejarah dan pengakuan terhadap kekayaan budaya bangsa.(*)
Artikel Terkait
TP PKK Halmahera Selatan Studi Tiru di Kabupaten Bulukumba, Kagumi Adat dan Kebudayaan
Tidak Hanya Sumberdaya Alam, Konservasi Kebudayaan Juga Jadi Perhatian Utama Prabowo Subianto
Ketemu Komunitas Seni, Gibran Tegaskan Kebudayaan tak Bisa Ditinggalkan
Disbudpar Sulsel Dorong Peningkatan Pembinaan Manajemen Sanggar Kesenian dan Kebudayaan
Ketua DPRD Hadiri Kemeriahan Pembukaan Pekan Raya Kebudayaan Daerah Kabupaten Bulukumba
Putusan MK Pisahkan Pemilu Nasional-Lokal, DPD Ingatkan Konsekuensi Besar!
Usai Kunjungan, Presiden Prabowo Gelar Ratas Virtual Bahas Ketahanan Nasional Lintas Sektor
Gubernur Andi Sudirman Targetkan Sulsel Jadi Pusat Olahraga Berkuda Nasional
Polres Bulukumba Kembali Tanam Jagung, Perkuat Ketahanan Pangan Nasional
Penetapan Hari Kebudayaan Nasional 17 Oktober Menuai Perdebatan, PDIP Minta Tak Dikaitkan dengan Ulang Tahun Prabowo