Saat ini, terdapat sekitar 2,3 juta pegawai negeri sipil di AS di luar pegawai Layanan Pos.
Mayoritas dari mereka bekerja di badan-badan keamanan, tetapi ratusan ribu lainnya bertugas dalam berbagai sektor, seperti pelayanan kesehatan veteran, pengawasan pertanian, dan administrasi anggaran pemerintah.
Baca Juga: Kampus Penerima KIP Kuliah Bukan Hanya bukan Hanya Negeri, Ini Daftar Swasta Siapkan Beasiswa
Menurut email yang dikirimkan, pemerintah menginginkan "tenaga kerja yang lebih ramping dan fleksibel."
Meski militer dan beberapa badan tertentu mungkin akan menambah staf, banyak lembaga lainnya akan menghadapi restrukturisasi dan kemungkinan pemutusan hubungan kerja.
"Saat ini, kami tidak dapat memberikan jaminan penuh mengenai keberlanjutan posisi atau lembaga tempat Anda bekerja, tetapi jika posisi Anda dihapus, Anda akan diperlakukan dengan bermartabat. Reformasi tenaga kerja federal akan menjadi langkah besar," bunyi email tersebut.
Baca Juga: Pemkab Harus Berani Beri Sanksi ke Penyedia MBG SD 171 Loka, DPRD Diminta Berpihak Kepada Rakyat
Potensi Dampak Finansial
Penawaran pensiun dini ini diharapkan dapat menghemat anggaran pemerintah secara signifikan.
Pejabat senior pemerintahan memperkirakan bahwa jika 5 hingga 10 persen PNS bersedia mengundurkan diri, maka AS bisa menghemat sekitar USD 100 miliar atau sekitar Rp1.621 triliun (dengan asumsi kurs Rp16.214 per dolar AS).
Baca Juga: Polres Bulukumba Kembali Gelar Yasinan dan Doa Bersama Awali Tugas Personel
Kebijakan ini pertama kali terungkap melalui sebuah memo yang dikirim oleh pemerintahan Trump kepada pegawai federal.
Para pegawai yang setuju untuk mundur diminta membalas email dengan menuliskan kata "resign."
"Tenaga kerja federal (PNS) harus menjadi yang terbaik yang bisa ditawarkan Amerika.
Kami akan menuntut keunggulan di setiap level," demikian kutipan dari memo tersebut, sebagaimana dilaporkan oleh Channel News Asia pada Rabu, 29 Januari.