Namun, di beberapa daerah, harga tersebut masih di bawah HPP, seperti di Banten (Rp 6.388/kg), Nusa Tenggara Barat (Rp 6.339/kg), Sumatera Selatan (Rp 6.200/kg), dan Lampung (Rp 6.400/kg).
Di sisi lain, harga beras medium di tingkat konsumen secara rata-rata nasional justru masih betah bertengger di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah untuk berbagai zona.
Misalnya, untuk zona 1 (Rp 13.714/kg vs HET Rp 12.500/kg), zona 2 (Rp 14.072/kg vs HET Rp 13.100/kg), dan zona 3 (Rp 15.752/kg vs HET Rp 13.500/kg).
Baca Juga: Gebrakan Pendidikan Jabar: Kombinasi Didikan Ala TNI dan Larangan HP di Sekolah!
Senada dengan data tersebut, Pusat Informasi Harga Pangan Strategi (PIHPS) Nasional juga mencatat bahwa harga berbagai kualitas beras medium masih di atas HET.
Contohnya, beras kualitas bawah I (Rp 14.050/kg), kualitas bawah II (Rp 13.800/kg), kualitas medium I (Rp 15.250/kg), dan kualitas medium II (Rp 15.150/kg).
Kondisi ini menunjukkan dilema yang dihadapi pemerintah. Memberikan bantuan dan menggelar operasi pasar saat harga gabah sedang rendah berpotensi merugikan petani.
Namun, harga beras di tingkat konsumen yang masih tinggi juga menjadi tantangan tersendiri.
Langkah "wait and see" yang diambil pemerintah ini mengindikasikan kehati-hatian dalam mengambil kebijakan.
Pemerintah tampaknya ingin memastikan harga gabah di tingkat petani stabil atau bahkan meningkat terlebih dahulu, sebelum akhirnya mengeluarkan jurus intervensi untuk menstabilkan harga beras di tingkat konsumen. (*)
Artikel Terkait
Erika Carlina Bungkam Soal Kasus Aldy Maldini: Kalau Aku Dirugikan, Biar Jadi Urusanku
Maia Estianty Gerah Dituding Settingan Indonesian Idol, Judika Bongkar Fakta di Balik Layar
Anang Hermansyah Ungkap Dilema 'Kutukan' Standing Ovation di Indonesian Idol: Kadang Aku Berpikir...
Kepala BGN Ungkap Fakta Mengejutkan Soal Keracunan MBG: Justru SPPG Berpengalaman Diduga Lalai, Training Ulang Jadi Solusi
Deddy Corbuzier Geram Soal Nenek Pencuri Bawang Dikeroyok: Kalau Korupsi 2 Ton Duit Negara, Dipukulin Juga?
Meutya Hafid Soroti Program Siswa Nakal Masuk Barak TNI di Jabar: Bisa Jadi Model Nasional
Terobosan Bulukumba: Bupati Wajibkan Desa Bentuk Bank Sampah, DPRD Sambut Peluang Ekonomi Baru
Jabar Darurat Sampah, Dedi Mulyadi Gandeng 'Sang Maestro' Pengelolaan Sampah Banyumas: Achmad Husein