Setelah di olah, akhirnya jadilah sebuah kue baru yang bernama Katirisala.
Kue ini berasal dari kata Tiri' yang artinya menetes atau tumpah sedangkan Sala artinya salah.
Katirisala juga dinamai kue salah tumpah karena terbentuk dari proses yang tidak disengaja karena gula aren yang tertumpaah di atas beras ketan yang telah di kukus.
Katirisala memiliki dua lapisan yang lembut dan kasar.
Makna filosofisnya yaitu meskipun karakternya berbeda, tetapi masih tetap bisa menyatuh.
Perbedaan yang saling melengkapi dan menutupi kekurangan.
Sebagaimana suami dan istri disatukan dalam ikatan mampu melewati keras lembutnya kehidupan.
Katirisala sengaja dibuat lebih lembut.
Potongan kue ini juga sengaja dibentuk segiti mewakili kreativitas, kekuatan, dan pergerakan yang dinamis.
Selain itu, bentuk segitiga mewakili tiga unsur hubungan dasar duniawi yaitu tuhan, manusia dan alam.(*)
Artikel Terkait
Serikaya, Ballo' Tanning, Ce'la, Bungung Salapang, Coto Jarang Na Karaeng, Hal Tak Terpisahkan dari Jeneponto
Kuliner Khas Berbahan Dasar Kuda Kabupaten Jeneponto: Ada Ganja Makanan Khas Kaum Bangsawan
Mengenal Desa Tokkonan: Masjid Tua Berusia 400 Tahun Hingga Baje' Ba'tan Kuliner Khas Kabupaten Enrekang
Legenda dan Filosofi Pisang Ijo, Takjil Incaran Buka Puasa di Sulsel: Juru Masak yang Hampir Dihukum Mati
Hikmah di Balik Jalangkote, Makanan Khas Sulsel yang Menyimpan Banyak Kenangan
Sering Disebut Sebagai Kue Kejujuran, Barongko Konon Hidangan Mewah yang Hanya Bisa Dinikmati Keluarga Raja
Dengan Ciri Khas Berwarna Hijau dan Kuning, Kue Sikaporo memiliki kisah legendaris yang penuh dengan makna