Warga pun memberi tahu bahwa kue tersebut bernama Barongko singkatan dari "Barang ku mua udoko" yang artinya barangku sendiri yang ku bungkus.
Hal itu berlandaskan pada kue yang berbahan dasar pisang yang kemudian dibungkus dengan daun pisang itu sendiri.
Tak hanya itu, Kue barongko ini memiliki filosofi tersendiri bagi orang Bugis-Makassar.
Kue yang dibungkus dengan daun pisang muda ini diibaratkan sebagai menjaga siri' bagi orang Bugis-Makassar atau harga diri.
Baca Juga: Utamakan Dorong Kader Internal, Gerindra Belum Pastikan Usung ASS di Pigub Sulsel 2024
Selain itu, juga melambangkan keharmonisan dan keselarasan dalam bertindak, baik di keluarga atau di luar lingkup masyarakat.
Nilai filosofis selanjutnya dari Barongko yaitu apa yang terbungkus dai dalam sama dengan yang tampak di luar.
Maksudnya adalah pikiran dan perasaan manusia harus selaras dengan tindakannya.
Sehingga Barongko ini juga sering disebut dengan kue kejujuran.
Kue itu akhirnya menjadi makanan mewah di lingkungan kerajaan saat itu, dan rakyat jelata belum bisa mencicipi kue tersebut.(*)
Artikel Terkait
Kuliner Khas Berbahan Dasar Kuda Kabupaten Jeneponto: Ada Ganja Makanan Khas Kaum Bangsawan
Mengenal Desa Tokkonan: Masjid Tua Berusia 400 Tahun Hingga Baje' Ba'tan Kuliner Khas Kabupaten Enrekang
Ternyata Begini Sehingga Kue Pastel Disebut 'Jalangkote' di Sulsel, Salah Satu Warisan Kuliner Indonesia
Legenda dan Filosofi Pisang Ijo, Takjil Incaran Buka Puasa di Sulsel: Juru Masak yang Hampir Dihukum Mati
Hikmah di Balik Jalangkote, Makanan Khas Sulsel yang Menyimpan Banyak Kenangan