Namun, di balik kegigihannya dalam evakuasi, Agam menyimpan penyesalan yang mendalam.
Ia mengaku sangat bersalah karena tidak bisa langsung berada di Rinjani saat insiden itu terjadi. Saat kejadian, Agam sedang berada di Jakarta.
Baca Juga: Empat Tahun Promedia Teknologi Indonesia: Bukan Sekadar Media, tapi Rumah bagi Keluarga Digital
"Menyesal saya ada di Jakarta waktu itu. Padahal sudah ada firasat. Tapi saya tetap main di Jakarta sama teman-teman," ucap Agam, menunjukkan rasa kepedulian yang besar terhadap sesama pendaki.
Kisah Agam Rinjani ini menjadi pengingat betapa bahayanya medan pegunungan yang ekstrem dan pentingnya kesigapan tim penyelamat dalam menghadapi situasi darurat.
Tragedi Juliana Marins juga menegaskan kembali pentingnya kehati-hatian dan persiapan matang bagi setiap pendaki.(*)
Artikel Terkait
Inilahh Tiga Gunung Mistis dan Menyeramkan yang Banyak Dibicarakan Pendaki
Tragedi Cartensz: Dua Pendaki Wafat, Fiersa Besari Selamat dalam Evakuasi Dramatis
Tragedi di Puncak Cartensz: Dua Pendaki Meninggal, Fiersa Besari Selamat dalam Ekspedisi Maut
'Mak Tidur Dulu Ya...'Pesan Terakhir Lilie Wijayati, Sang 'Mamak Pendaki', Sebelum Tutup Usia di Puncak Carstensz
'Bu Elsa dan Mamak, Terima Kasih': Fiersa Besari Kenang Nasihat Terakhir Para Pendaki di Carstensz Pyramid
Istana Buka Suara Usai Akun Prabowo Diserbu Netizen Asing, Buntut Insiden Pendaki Brasil di Rinjani
Insiden Rinjani Picu Evaluasi Besar-besaran SOP Pendakian Gunung, Menhut Siapkan Gelang RFID untuk Pendaki