Mereka sibuk dengan layar ponsel, lebih tertarik jadi konten kreator daripada belajar menyetel mesin pecah kulit. Mereka tak melihat bahwa beras bukan sekadar hasil akhir, tapi jejak panjang dari tanah, keringat, dan cinta.
Baca Juga: Konvoi Brutal Berujung Bui: Empat Anggota Perguruan Silat Ditangkap Usai Keroyok Warga di Bandung
Suatu sore, seorang anak muda bertanya, "Kenapa masih bertahan, Pak? Bukankah di kota ini sudah banyak penggiling padi yang lebih lebih cepat dan modern?"
Pak Mamat hanya tersenyum.
Matanya menatap karung-karung beras yang tersusun rapi. Lalu dengan tenang ia berkata:
"Beras itu bukan cuma makanan. Di baliknya ada keringat petani, cinta keluarga, dan suara mesin yang tak mau berhenti meski dunia berubah. Tapi kalau tak ada yang mau mendengarkan lagi, mungkin suatu hari suara itu akan benar-benar hilang..."
Dan senja sore itu, suara mesin tua kembali menyala. Bukan karena tenaganya, tapi karena harapan yang belum padam.***
Artikel Terkait
Bus Trans Sulsel Siap Mengaspal, Hubungkan Mamminasata dengan Transportasi Terpadu!
Kejutan! Timnas Indonesia Masuk Pot 3 Drawing Kualifikasi Piala Dunia 2026 Round 4, Siap Tantang Raksasa Asia!
Misteri CCTV Bergeser dalam Kematian Diplomat Arya Daru: Ada Apa Sebenarnya?
Ahmad Dhani Bongkar Makna Tersembunyi di Balik Pujian untuk Irwan Mussry: Ada Sindiran untuk Maia?
Lita Gading Bantah Keras Tuduhan Perundungan Anak Ahmad Dhani: Tidak Ada yang Membuat Mental Anak Jatuh!
Konvoi Brutal Berujung Bui: Empat Anggota Perguruan Silat Ditangkap Usai Keroyok Warga di Bandung
Ancaman Istana Menggema: Bansos Bakal Dicabut Bagi Pemain Judi Online, Data Rp957 Miliar Jadi Bukti!
Relokasi Pasar Cekkeng: Dialog Hangat di Bulukumba, Kapolres Ajak Jaga 'Rumah Bersama'
Harga Mahal Tiket Final Piala Presiden: Oxford United Dihantam Badai Cedera, Ole Romeny Jadi Tumbal!
Ahmad Dhani Buka-bukaan: Bantah KDRT ke Maia, Ngaku Pernah Dilempar Remote TV!