Akan tetapi, Amerika Serikat dinilai belum sepenuhnya siap memanfaatkan momentum ini karena kebijakan luar negeri yang lebih tertutup dalam beberapa tahun terakhir.
Menurut Lowy Institute, peningkatan beban pembayaran utang telah mengalihkan sumber daya negara-negara berkembang dari sektor vital seperti kesehatan, pendidikan, hingga pengentasan kemiskinan.
Baca Juga: Kunjungi Pulau Gag, Bahlil Disambut Permintaan Warga: Tambang Nikel Tetap Beroperasi
Kini, tekanan internasional meningkat agar China berkompromi dalam merestrukturisasi utang demi stabilitas ekonomi global dan kemitraan jangka panjang yang lebih sehat.***
Artikel Terkait
Polemik Tambang Nikel Raja Ampat: Bahlil Tegaskan Izin Terbit Sebelum Dirinya Menjabat, Kini Dihentikan Sementara
Waspada! 4 Tanda Tubuh Mulai Kebanyakan Makan Daging, dari Bau Mulut hingga Sembelit
Masyarakat Tak Perlu Cemas soal Penulisan Sejarah Nasional, Fadli Zon: Ditulis Sejarawan, Bukan Politikus
Egy Maulana Vikri Tak Gentar Hadapi Jepang Meski Turunkan Tim Pelapis: Skuad Utama Sama Saja
Prabowo Ditelepon Langsung PM Kanada, Indonesia Diundang untuk Hadiri KTT G7
Kunjungi Pulau Gag, Bahlil Disambut Permintaan Warga: Tambang Nikel Tetap Beroperasi
Polres Bulukumba Gencarkan Patroli Malam, Sasar Titik Rawan Demi Kamtibmas Kondusif
Sambutan Merah Putih di Negeri Sakura: Gemuruh Suporter Hangatkan Kedatangan Timnas Indonesia
Charly Van Houten Pecah Kebuntuan Royalti: Nyanyikan Saja Laguku, Gratis!
Alarm Kebakaran Hebohkan Hotel di Arab Saudi: Ulah Jemaah Haji Indonesia Merokok Picu Kepanikan