Festival Tiga Sungai hadir sebagai ruang edukasi, dialog, dan gerakan bersama lintas komunitas, generasi muda, dan pemerintah. Beragam kegiatan dilaksanakan, meliputi diskusi, workshop, pameran, lapak buku, teater, dan banyak lagi.
Andi Utta, sapaan akrab bupati, menyampaikan apresiasinya atas terlaksananya kegiatan ini.
“Saya mengapresiasi kegiatan Festival Sungai ini. Bukan hanya menyuarakan isu lingkungan, tapi juga menyentuh aspek edukasi, budaya, dan kepedulian publik. Lewat pameran dan kegiatan seperti ini, kita membangun kesadaran ekologis di tengah masyarakat,” ungkapnya.
Baca Juga: Mengintip Gurita Bisnis Nikel: Daftar 4 Konglomerat Pemilik Tambang Nikel di Indonesia
Ia juga menegaskan pentingnya kolaborasi dalam menjaga lingkungan. “Saya ingat, 3.800 mobil sampah dan sedimen kami angkat dari saluran air di 100 hari pertama saya bekerja dan sampai hari ini masih terus dilakukan. Masalah sampah bukan hanya urusan pemerintah, tapi tanggung jawab kita semua. Sekecil apa pun sampah, jangan dibuang sembarangan," ungkap Bupati Andi Utta.
Bupati yang berlatar belakang pengusaha ini berharap gerakan ini tidak berhenti pada tiga sungai saja. "Kalau satu sungai saja bisa kita bersihkan, apalagi tiga. Tapi idealnya, semua sungai harus kita jaga bersama," pungkasnya.
Baca Juga: Fenomena 'Kumpul Kebo' Meningkat di Indonesia, Wilayah Timur Jadi Sorotan Utama
Masalah sampah dan pencemaran sungai tidak bisa ditangani sendirian. Butuh kerja sama semua pihak, baik pemerintah, masyarakat, komunitas, maupun generasi muda. Festival ini menjadi ruang penting untuk mempertemukan semua pihak agar dapat menyusun langkah bersama yang lebih kuat dan berdampak bagi lingkungan. (*)