Sulawesinetwork.com - Seorang guru Bahasa Inggris, Agus Saputra di SMK Negeri 3 Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Jambi, mendadak jadi sosok yang ramai diperbincangkan di media sosial (medsos) usai diduga menjadi korban pengeroyokan oleh sejumlah siswa.
Akibat kejadian tersebut, Agus mengalami luka memar di bagian badan dan pipi akibat berbagai pukulan oleh sejumlah siswa.
Terkini, seorang siswa berinisial MLF yang diduga terlibat dalam kasus pengeroyokan terhadap guru tersebut membeberkan kronologi awal hingga akhirnya berujung pengeroyokan.
Baca Juga: Gubernur Sulsel Bersama Menhub dan Basarnas Evaluasi Pencarian Korban ATR 42-500
Kronologi versi Siswa: Ogah Dipanggil 'Bapak'
Dalam unggahan Instagram @pembasmii.kehaluan, pada Sabtu, 17 Januari 2026, MLF menuturkan ketegangan bermula dari kesalahpahaman di ruang kelas saat jam pelajaran hampir selesai.
"Situasi kelas yang bising membuat MLF spontan berteriak meminta rekan-rekannya diam," demikian penuturan dalam postingan tersebut.
Baca Juga: Pesawat ATR 42-500 Hilang Kontak, Gubernur Sulsel: Kita Kerahkan Tim Gabungan untuk Pencarian
MLF mengaku terkejut saat guru tersebut tiba-tiba masuk ke kelas tanpa permisi kepada guru yang sedang mengajar dan langsung mencari siapa yang berteriak.
"Tiba-tiba beliau langsung masuk ke dalam kelas tanpa permisi ke guru yang ada di dalam, langsung tanya ‘siapa yang bilang woi?' begitu," tutur MLF.
"Terus saya jawab ‘saya Prince’ kayak gitu, terus spontan saya ke depan langsung ditampar," imbuhnya.
Baca Juga: Ratusan Miliar untuk Pengadaan Alat Makan MBG, Tanggung Jawab BGN atau SPPG?
Di samping kasus itu, penggunaan panggilan 'Prince' ternyata merupakan permintaan khusus dari sang guru itu sendiri.
MLF menjelaskan, guru tersebut kerap marah jika disapa dengan sebutan Bapak' dan lebih memilih dipanggil dengan sebutan tersebut.