"Setelah mediasi itu, saya diajak komite ke kantor. Di saat itulah terjadi pengeroyokan," ungkap Agus.
Merasa menjadi korban kekerasan, Agus mengaku masih mempertimbangkan langkah hukum.
Guru SMK di Jambi itu merasa berat melaporkan para siswa ke polisi karena mempertimbangkan masa depan dan kondisi psikologis mereka.
Baca Juga: PAD Bulukumba Naik Peringkat, BI Ingatkan ASN Jadi Motor Transaksi Digital
"Saya merinding kalau harus melapor ke polisi. Mereka ini anak didik saya, masih sekolah dan secara psikologis butuh bimbingan," tutup Agus.
Hingga kini, belum ada keterangan resmi dari pihak sekolah maupun otoritas setempat ihwal kasus kekerasan antara guru dan para siswanya di SMK Jambi tersebut. (*)