"Semua praktik, ajari ke porter-porter yang ada karena dia sudah ada lisensi, kami mau mengajar kami tidak punya kapasitas, bener tidak punya lisensi tapi kemampuan kami ada, itu yang jadi problem," keluh Agam.
Menanggapi masukan tersebut, Menteri Raja Antoni kembali mengingatkan pentingnya persiapan matang sebelum mendaki gunung.
"Penting bagi kita untuk mendefinisikan safety first ini seperti apa measurement-nya," kata Raja.
Ia menekankan bahwa definisi ini harus diperoleh dengan melibatkan orang-orang yang memang berada di lapangan.
"Saya ingin ada perbaikan di Taman Nasional, kita harus hati-hati sekali tentang pengelolaan Taman Nasional untuk pendakian," pungkasnya.
Evaluasi ini diharapkan dapat menghasilkan SOP yang lebih komprehensif dan implementatif, memastikan keselamatan pendaki serta keberlanjutan ekosistem Taman Nasional.(*)
Artikel Terkait
Inilahh Tiga Gunung Mistis dan Menyeramkan yang Banyak Dibicarakan Pendaki
Tragedi Cartensz: Dua Pendaki Wafat, Fiersa Besari Selamat dalam Evakuasi Dramatis
Tragedi di Puncak Cartensz: Dua Pendaki Meninggal, Fiersa Besari Selamat dalam Ekspedisi Maut
'Mak Tidur Dulu Ya...'Pesan Terakhir Lilie Wijayati, Sang 'Mamak Pendaki', Sebelum Tutup Usia di Puncak Carstensz
'Bu Elsa dan Mamak, Terima Kasih': Fiersa Besari Kenang Nasihat Terakhir Para Pendaki di Carstensz Pyramid
Istana Buka Suara Usai Akun Prabowo Diserbu Netizen Asing, Buntut Insiden Pendaki Brasil di Rinjani
Insiden Rinjani Picu Evaluasi Besar-besaran SOP Pendakian Gunung, Menhut Siapkan Gelang RFID untuk Pendaki
Kisah Pilu di Rinjani: Agam Ungkap Detik-Detik Evakuasi Jenazah Pendaki Brasil, Juliana Marins