Wamenkes: Stunting Butuh Treatment Medis, Bukan Sekadar Makan Bergizi Gratis

photo author
Hendrawan, Sulawesi Network
- Kamis, 8 Januari 2026 | 12:21 WIB
Wamenkes RI dr. Benjamin Paulus Octavianus sebut MBG buka cara utama tangani stunting. (Pemkot Tangerang)
Wamenkes RI dr. Benjamin Paulus Octavianus sebut MBG buka cara utama tangani stunting. (Pemkot Tangerang)

Sulawesinetwork.com - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) disebut bukan satu-satunya cara digunakan untuk bisa menangani persoalan stunting di Indonesia.

Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Benjamin Paulus Octavianus mengatakan MBG merupakan langkah awal peningkatan gizi, namun penanganan stunting membutuhkan tindakan medis khusus.

"Stunting itu orang per orang harus ditangani secara medis, stunting itu treatment, beda dengan makan bergizi. Makan bergizi semua orang dikasih," kata Benjamin dalam konferensi pers satu tahun Program MBG di SMKN 1 Jakarta, Sawah Besar, Jakarta Pusat, Kamis (8/1/2026).

Baca Juga: Bukan Hanya Siswa Sekolah, BGN Bakal Bagikan MBG ke Disabilitas-Anjal-Lansia

Benjamin menjelaskan bahwa stunting tidak bisa hanya diselesaikan hanya dengan pola makan massal. Melainkan anak-anak yang masuk kategori stunting memerlukan pemeriksaan individual, mulai dari berat badan, tinggi badan, hingga kebutuhan asupan gizi yang berbeda-beda.

"Ada yang berat badannya satu kilo, dua setengah kilo, tiga kilo. Dosisnya beda-beda. Ini harus dipantau, ditimbang, dan dievaluasi secara berkala. Itu tidak bisa dilakukan hanya dengan pola makan massal," ujarnya.

Meski demikian, MBG disebut tetap menjadi fondasi penting dalam upaya perbaikan gizi nasional. Dimana pemerintah masih memprioritaskan perluasan cakupan layanan MBG agar menjangkau seluruh sasaran penerima.

Baca Juga: Bupati Bantaeng Apresiasi Peran Petani dalam Program Swasembada Pangan Nasional

"Hari ini kita kejar dulu supaya layanan MBG bisa lengkap. Setelah itu, kita masuk lebih dalam ke treatment stunting," jelasnya.

Benjamin menyebut bahwa pemerintah menargetkan cakupan MBG mencapai 82,9 juta penerima, sembari tetap menjaga mutu dan keamanan pangan.

Kementerian Kesehatan, kata Benjamin, tengah menyusun strategi lanjutan untuk menangani sekitar 18% anak Indonesia yang masuk kategori stunting. Strategi ini akan melibatkan tenaga kesehatan dan pendekatan medis terukur.

Baca Juga: Sukses Tingkatkan Pertanian, Gubernur Sulsel Terima Satyalancana Wira Karya dari Presiden Prabowo

"Stunting itu tindakan medis. Harus ada pengukuran dua minggu sekali, apakah berat badannya naik atau tidak. Ini sangat teknis dan tidak bisa diserahkan ke BGN," tegasnya.

Ia menambahkan, data dampak MBG terhadap stunting tidak bisa disampaikan secara instan dan harus melalui kajian medis yang teliti.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Hendrawan

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X