info-sulawesi

Dilema Gabah Bulukumba: Harga Tinggi Picu Kekhawatiran Lonjakan Harga Beras Lokal

Jumat, 1 Mei 2026 | 13:54 WIB
Ilustrasi. Proses transaksi gabah petani yang naik.

Sulawesinetwork.com - Forum Penggiling Padi Lokal Bulukumba (FPPLB) mulai menyoroti dampak dari naiknya harga gabah yang saat ini sudah berada di kisaran Rp7.300 sampai Rp7.500 per kilogram, termasuk adanya dorongan agar petani menjual gabah ke luar daerah karena harga yang ditawarkan lebih tinggi dari penggiling lokal.

Humas FPPLB, Erwin Abdullah, mengatakan bahwa pihaknya memahami kondisi petani yang ingin mendapatkan harga terbaik. Namun menurutnya, situasi ini perlu dilihat secara lebih luas karena berdampak langsung ke masyarakat.

Baca Juga: Curanmor di Kajang Terungkap: Polisi Amankan Dua Pelaku di Bawah Umur dan Satu Unit N-Max

“Petani mau harga bagus itu wajar. Tidak ada yang salah di situ. Tapi kita juga harus lihat, kalau gabah banyak keluar daerah, nanti beras di dalam daerah bisa ikut naik,” ujarnya.

Ia menjelaskan, dengan jumlah penduduk sekitar 450 ribu jiwa, kebutuhan beras di Bulukumba diperkirakan mencapai sekitar 115 Ton/hari atau 250gram beras/orang/hari

Baca Juga: Program SEHATI Sulsel di SMA 17 Makassar Dorong Deteksi Dini Perilaku Remaja

“Artinya sederhana saja, kalau harga beras naik Rp1.000 per kilo, masyarakat harus keluar tambahan sekitar Rp115 juta per hari. Kalau dikali sebulan, itu sudah lebih dari Rp3 miliar,” jelasnya.

Menurut FPPLB, kondisi ini yang perlu menjadi perhatian bersama, terutama bagi masyarakat yang setiap hari membeli beras di pasar.

“Yang paling terasa itu ibu-ibu. Karena tiap hari mereka yang belanja. Kalau harga naik, mereka yang langsung kena,” lanjutnya.

Baca Juga: Bunda PAUD Bantaeng Lepas Ratusan Peserta Karnaval Hardiknas 2026

FPPLB juga mengingatkan bahwa jika pergerakan gabah ke luar daerah tidak terkendali plus ancaman elnino yang menghantui di tahun ini, maka penggiling lokal akan kesulitan mendapatkan bahan baku.

Hal ini bisa berdampak pada produksi beras di dalam daerah sekaligus serapan cadangan beras pemerintah yang digunakan untuk menahan kenaikan harga beras dipasaran dalam bentuk beras SPHP.

Baca Juga: 71 Warga Rentan di Sinjai Terima Bantuan Atensi Kemensos, Lansia dan Disabilitas Jadi Prioritas

“Kalau penggiling lokal tidak jalan, pasokan beras di daerah juga bisa terganggu. Ujungnya tetap ke masyarakat,” katanya.

Halaman:

Tags

Terkini