Tri menyayangkan lemahnya kontrol kualitas (quality control) di dapur umum, mengingat ukuran kotoran yang menempel sangat mencolok.
“Semoga ini jadi pelajaran untuk lebih teliti. Ini kotoran ayam banyak bakteri. Masa dari semua sektor pekerja tidak kelihatan kotoran ayam segitu besarnya? Semoga ke depannya lebih profesional,” tulisnya.
Tri mengaku masih menyimpan telur tersebut sebagai barang bukti jika sewaktu-waktu pihak berwenang melakukan verifikasi lapangan.
Hingga kini, warganet terus mendesak agar pelaksanaan program MBG dievaluasi secara menyeluruh agar cita-cita mencetak generasi sehat tidak terhambat oleh masalah teknis kebersihan.(*)
Artikel Terkait
Perjuangan Siswa SD di Tolikara: Menunggu Pesawat Lepas Landas Menjadi 'Lampu Merah' Alami demi Pergi ke Sekolah
Di Balik Duka Tragedi Kontainer Karawang: Sifa Cari Cincin Kenangan Terakhir Bersama Mendiang Mama
Kisah Pilu Adit di Majalaya: Selalu Sisihkan Makanan Masjid untuk Nenek, Sering Hanya Makan Nasi Garam Kecap
Heboh Alumni LPDP Pamer Anak Jadi WNA Inggris, Kini Giliran Sang Suami Dipanggil Terkait Masa Pengabdian
Viral! Ribuan Warga Sumenep 'Booking' Tempat Tarawih Sejak Jam 2 Siang, Demi Amplop Zakat Rp300 Ribu
Sejuk! 21 Tahun di Jepang dan Raih Beasiswa Penuh, Wanita Ini Tetap Bangga Paspor Indonesia: Jangan Lelah Mencintai RI
Menggetarkan Hati! Pengamen Biola di Menteng Tampil Layaknya Musisi Orkestra, Pengendara: Merinding, Pengen Nangis
Debat Panas! Ibu Penjual Sayur di NTT Dilarang Dagang di Teras Rumah Sendiri, Satpol PP: Jangan Bikin Pasar Tandingan
Dramatis! Kawanan Gajah Liar Serbu Mess Karyawan di Riau, Warga Berhasil Selamatkan Bayi Gajah dari Septic Tank
Menu Makan Bergizi Gratis (MBG) Ramadan Viral: Jatah Rp15 Ribu per Porsi Dipertanyakan, Guru di Palu Sebut 'Pembodohan'