Selain itu, kebijakan efisiensi anggaran yang diterapkan pemerintah turut memperburuk keadaan.
“Ketika anggaran daerah dipotong, sumber pemasukan banyak yang menghilang. Ini berdampak besar bagi masyarakat kelas bawah, yang sebelumnya masih mendapat limpahan dana dari proyek-proyek pembangunan,” jelasnya.
Dalam skala yang lebih luas, ia menyoroti kesenjangan sosial yang semakin melebar sebagai faktor yang mendorong maraknya aksi pemalakan oleh ormas.
Baca Juga: Muhammadiyah Bulukumba Pusatkan Sholat Idul Fitri 1446 H di Kompleks Perguruan Muhammadiyah Teko
Widyanta berpendapat bahwa kelompok elit oligarki dengan mudahnya memamerkan gaya hidup mewah mereka di berbagai platform media sosial dan ruang publik, sering kali tanpa mempertimbangkan dampak sosial yang ditimbulkannya.
Sementara itu, di sisi lain, masih banyak masyarakat yang harus berjuang keras untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka, bahkan dalam kondisi ekonomi yang semakin sulit.
Menurutnya, fenomena ini tidak hanya sekadar menimbulkan kecemburuan sosial, tetapi juga membentuk rasa frustrasi kolektif di kalangan masyarakat kelas bawah.
Ketidakadilan dalam distribusi kekayaan serta akses terhadap sumber daya ekonomi menimbulkan ketidakpuasan yang pada akhirnya dapat mendorong sebagian kelompok masyarakat melakukan tindakan menyimpang, termasuk pemalakan oleh ormas.
“Kondisi ini semakin parah ketika ketidakadilan sosial ini terus berulang, sementara di sisi lain, budaya konsumtif semakin dipertontonkan tanpa kontrol,” ujarnya.
Widyanta menegaskan bahwa tindakan premanisme oleh ormas ini tidak boleh dibiarkan terus terjadi karena dampaknya yang luas terhadap stabilitas sosial dan dunia usaha.
Baca Juga: H. Patudangi Azis Berbagi Paket Sembako di Bulukumba, Wujud Kepedulian Menjelang Idul Fitri
Ia menekankan pentingnya penegakan hukum yang tegas, tanpa pandang bulu, serta tidak boleh terhambat oleh kepentingan politik atau hubungan kedekatan kelompok tertentu dengan aparat.
Ia berpendapat bahwa meskipun tindakan pemalakan oleh ormas merupakan bentuk pemerasan, mereka hanyalah bagian kecil dari permasalahan besar yang dihadapi oleh negara.
“Yang lebih berbahaya dan memiliki dampak sistemik jauh lebih luas adalah para pejabat yang secara terang-terangan mencabik-cabik konstitusi demi kepentingan pribadi dan kelompoknya, menciptakan kebijakan yang tidak adil, serta membiarkan ketimpangan sosial semakin melebar,” ujarnya dengan tegas.
Artikel Terkait
Revolusi Perwasitan Sepak Bola Indonesia, Erick Thohir Siapkan Sistem Digital dan Peningkatan Kualitas Wasit
Tebar Kebaikan, Polres Bulukumba Salurkan Sembako kepada Cleaning Service Kantor
Cegah Kriminalitas, Polsek Gantarang Bentuk Timsus Patroli Malam
Kapan Sidang Isbat Idul Fitri 2025? Ini Jadwal dan Link Streamingnya
Lisa Mariana Spill Isi Chat Terbaru, Diduga dari Pihak Ridwan Kamil dan Menawarkan Uang Rp2 Miliar: Bersihkan Nama Pak RK Ya
Ditawari Uang Rp2 Miliar Diduga dari Ridwan Kamil, Lisa Mariana: Saya Tidak Memeras, Hanya Minta Hak Anak
Serapan Bulog Naik 2.000 Persen, Hensa: Memang Dingin Tangan Mentan Amran
Presiden PT Harum Lestari, H Haris, Gelar Buka Puasa Bersama Ratusan Anak Panti Asuhan: Kebahagiaan Nyata