Syahrullah Sanusi. S.Sos., M.Si (Alumni Magister Perencanaan Pengembangan Wilayah Unhas)
BAYANGKAN sebuah kota di mana kamu tidak pernah perlu menghabiskan lebih dari 15 menit—entah jalan kaki atau bersepeda—untuk mencapai sekolah, pasar, klinik, taman, tempat kerja, atau kafe favorit. Tidak ada lagi kemacetan dua jam ke kantor.
Tidak ada lagi ketergantungan mutlak pada mobil pribadi. Ini bukan utopia fiksi ilmiah—ini konsep perencanaan wilayah yang sedang diuji coba di berbagai kota besar dunia, dan namanya adalah the 15-minute city.
Lahir dari Krisis, Bukan dari Teori
Baca Juga: Polres Bulukumba Kerahkan Water Cannon Bantu Petani Atasi Kekeringan Sawah
Konsep ini dipopulerkan oleh Carlos Moreno, pakar ilmu kompleksitas dari Sorbonne, dan mendapat panggung besar saat Wali Kota Paris, Anne Hidalgo, mengadopsinya sebagai visi pembangunan kota pasca-pandemi.
Ironisnya, gagasan ini justru menemukan momentumnya di tengah krisis—saat pandemi memaksa jutaan orang di seluruh dunia menyadari satu hal yang mengganggu: betapa jauh dan melelahkannya jarak antara rumah mereka dengan kebutuhan hidup sehari-hari.
Selama puluhan tahun, banyak kota modern dibangun dengan logika zonasi fungsional yang kaku—area residensial di satu sisi, kawasan bisnis di sisi lain, pusat perbelanjaan entah di mana. Hasilnya, warga kota terjebak dalam ritme hidup yang serba komuting: bangun pagi, macet ke kantor, macet lagi pulang, hampir tanpa waktu tersisa untuk keluarga atau komunitas.
Baca Juga: Rutin, BAZNAS Bulukumba Salurkan Bantuan Pangan untuk Lansia dan Penyandang Disabilitas
Prinsip Dasar yang Sebenarnya Tidak Baru
Menariknya, konsep kota 15 menit sebenarnya bukan penemuan baru. Ia adalah kembalinya pola hidup yang dulu alami dimiliki kota-kota pra-industri, sebelum mobil menjadi pusat perencanaan wilayah.
Kampung-kampung tradisional, kota-kota abad pertengahan di Eropa, hingga banyak permukiman tradisional di Nusantara—semuanya secara alami dirancang agar kebutuhan dasar bisa dijangkau dengan berjalan kaki.
Baca Juga: BAZNAS Bulukumba Buka Program Santripreneur 2026, Santri Bisa Kembangkan Usaha
Yang membedakan pendekatan kontemporer ini adalah upaya sengaja untuk merancang ulang kota-kota modern yang telanjur tersebar luas agar kembali memiliki struktur “polisentris”—yakni memiliki banyak pusat layanan kecil yang tersebar merata, bukan hanya satu pusat kota tunggal yang harus dituju semua orang.