Kuncinya bukan meniru mentah-mentah kota Eropa, melainkan mengadaptasi prinsip dasarnya: manusia seharusnya tidak perlu menempuh perjalanan panjang hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup paling dasar.
Kota untuk Manusia, Bukan untuk Kendaraan. Pada akhirnya, kota 15 menit bukan sekadar soal jarak tempuh. Ia adalah pergeseran filosofi mendasar dalam perencanaan wilayah: dari kota yang dirancang mengelilingi mobilitas kendaraan bermotor, menuju kota yang dirancang mengelilingi kehidupan manusia itu sendiri—waktu, kesehatan, komunitas, dan rasa memiliki terhadap ruang tempat mereka tinggal.
Mungkin, di situlah letak revolusi sesungguhnya: bukan pada teknologi canggih atau infrastruktur mahal, melainkan pada keberanian untuk bertanya ulang, “Sedekat apa seharusnya jarak antara rumah dan kehidupan yang kita jalani?"
Artikel Terkait
AKBP Stephanus Luckyto Resmi Nahkodai Polres Bulukumba, Siap Jaga Kondusivitas Wilayah
Judi Online: Ancaman Tersembunyi di Balik Layar Gawai
Pisah Sambut Kapolres Bulukumba, Bupati Andi Utta Tekankan Sinergi Jaga Keamanan dan Berantas Narkoba
DPRD Bulukumba Setujui Ranperda Pertanggungjawaban APBD 2025, Lanjut Pembahasan Rancangan KUA-PPAS APBD
Hari Pramuka ke-65, H. Safiuddin Hadiri Apel Besar dan Pelepasan Kontingen Jamnas XII
Banggar DPRD Bulukumba Perdalam Pembahasan KUA APBD 2027, Fokus Optimalkan PAD
Kontes Sapi Hasil IB di Bulukumba, Brutus Juara Pedet dengan PBBH 1,335 Kg per Hari