Temuan penelitian mengindikasikan bahwa kapasitas adaptif para pelaku industri mengalami penurunan, terutama pada aspek kelembagaan, keberlanjutan sumber daya, dokumentasi pengetahuan tradisional, dan perencanaan jangka panjang.
Meskipun kemampuan berinovasi dan merespons perubahan pasar masih relatif baik, proses adaptasi yang berlangsung cenderung bersifat reaktif dan belum didukung oleh pembelajaran kolektif maupun penguatan kelembagaan yang memadai.
Selanjutnya, Dr. Ishak Salim, S.IP., M.A. mempresentasikan hasil penelitian mengenai tantangan pelestarian Pinisi dari perspektif jaringan aktor dalam kebijakan.
Penelitian tersebut mengidentifikasi empat tantangan utama, yaitu komodifikasi budaya, ketimpangan relasi kekuasaan antaraktor, fragmentasi jaringan kelembagaan, serta krisis ketersediaan bahan baku kayu.
Berdasarkan temuan tersebut, penelitian merekomendasikan pembentukan asosiasi pekerja Pinisi, penyusunan kontrak kerja yang mampu melindungi pekerja sekaligus nilai-nilai budaya, penguatan tata kelola pemanfaatan kayu yang transparan dan berkelanjutan, dokumentasi pengetahuan lokal, serta pengembangan pariwisata berbasis komunitas sebagai strategi menjaga keberlanjutan budaya maritim.
Diskusi yang berlangsung setelah sesi presentasi menghadirkan berbagai perspektif dari para peserta yang terdiri atas unsur pemerintah daerah, akademisi, penggiat pelestarian Pinisi, Horst Liebner, para panrita lopi, tokoh pemuda, serta perwakilan Desa Ara, Kecamatan Bonto Bahari, dan Desa Bira.
Baca Juga: Fraksi Golkar DPRD Bulukumba Apresiasi Opini WTP, Soroti SiLPA Rp58 Miliar dan Kemandirian Fiskal
Beragam masukan yang disampaikan memperkaya hasil penelitian sekaligus mempertegas pentingnya kolaborasi antarpemangku kepentingan dalam menjaga keberlanjutan ekosistem budaya Pinisi.
Tanggapan konstruktif diberikan guna menekankan pentingnya tindak lanjut atas hasil penelitian tersebut, baik melalui pengembangan riset yang lebih mendalam maupun melalui komitmen Pemerintah Kabupaten Bulukumba dalam merumuskan kebijakan yang mampu menjawab berbagai tantangan pelestarian Pinisi.
Melalui kegiatan diseminasi ini, Departemen Ilmu Administrasi FISIP Universitas Hasanuddin bersama Bapperida Kabupaten Bulukumba berharap hasil penelitian tidak berhenti sebagai luaran akademik semata, tetapi dapat menjadi landasan dalam penyusunan kebijakan publik yang berbasis bukti serta memperkuat kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, komunitas, dan masyarakat dalam menjaga keberlanjutan Pinisi sebagai warisan budaya maritim yang memiliki nilai historis, sosial, ekonomi, dan budaya.(*)