"Kalau cuaca mendukung, evakuasi menggunakan pesawat. Tapi kalau tidak, kita lakukan evakuasi darat," jelasnya.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sulawesi Selatan, Amson Padolo mengungkapkan, pelaksanaan modifikasi cuaca merupakan instruksi langsung dari Gubernur Sulsel, Andi Sudirman Sulaiman.
Instruksi itu dikeluarkan setelah melihat langsung beratnya tantangan evakuasi di lapangan.
Baca Juga: Wakil Ketua DPRD Bulukumba Terima Audiensi IPPS UIN Alauddin Bahas Isu Hukum Pertanahan
"Pak Gubernur dan pak Menteri Perhubungan sebelumnya mendatangi langsung posko Aju dan melihat kendala sulitnya evakuasi karena faktor cuaca dan medan yang terjal," kata Amson.
Melihat kondisi tersebut, Gubernur Sulsel kemudian menginstruksikan agar dilakukan operasi modifikasi cuaca sebagai upaya mendukung kelancaran pencarian dan evakuasi korban. Langkah itu dinilai tepat, karena hasilnya langsung dirasakan oleh tim SAR di lapangan.
Amson menjelaskan, operasi modifikasi cuaca dilaksanakan oleh BMKG dengan dukungan Angkatan Udara sejak Selasa, 20 Januari 2026.
Baca Juga: Mengajar Belasan Tahun tapi Gaji Rp200 Ribu, Viral Guru PAUD Bongkar Pendapatan Sebulan
Setiap sortie dilakukan dengan menyebarkan sekitar 1.000 kilogram atau satu ton bahan semai berupa kalsium oksida (CaO) dari udara menggunakan pesawat Cessna.
"Kita bersyukur OMC yang dilaksanakan BMKG bersama Pemprov Sulsel membawa hasil yang signifikan dalam mengurangi turunnya hujan dan mengurai kabut di lokasi pencarian, sehingga memberi hasil yang positif bagi pergerakan tim SAR gabungan," ujarnya.
Baca Juga: Mengajar Belasan Tahun tapi Gaji Rp200 Ribu, Viral Guru PAUD Bongkar Pendapatan Sebulan
Sebelumnya, tim DVI Mabes Polri dan Polda Sulsel telah mengidentifikasi dua jenazahbmasing-masing atas nama Florensia Lolita Wibisono, pramugari pesawat, serta Deden Maulana, pegawai Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).
Keduanya telah diserahkan ke pihak keluarga pada Rabu, 21 Januari 2026 untuk dimakamkan.(*)