Evvy Kartini menekankan bahwa pemilihan material dan keseriusan dalam pengolahan limbah baterai akan menjadi tantangan besar ke depan.
Ridwan Hanif bahkan sempat membandingkan secara rinci performa dan harga baterai NCM dan LFP pada produk mobil listrik asal China, Xpeng X9. Dalam unggahan X-nya pada 30 Juni 2025, ia menjelaskan:
Baca Juga: Terkubur di Balik Puing: Kisah Pilu Direktur RS Indonesia di Gaza yang Gugur Bersama Keluarga
"Beda jenis baterai, beda harga dan jarak tempuh, Xpeng X9 punya 2 pilihan baterai; NCM dan LFP," terang Ridwan. Ia melanjutkan, "NCM lebih mahal dan range lebih jauh.
LFP lebih murah tapi range lebih pendek meski punya dimensi dan bobot sama. Makanya dia punya akselerasi sama meski kapasitas lebih kecil."
Dari ulasan tersebut, terlihat bahwa baterai NCM menawarkan jangkauan (range) yang lebih jauh namun dengan harga yang lebih tinggi.
Baca Juga: Terobosan Sejarah di New York: Zohran Mamdani Selangkah Menuju Wali Kota Muslim Pertama!
Sementara itu, baterai LFP hadir dengan harga yang lebih terjangkau dan potensi masa pakai yang lebih panjang, meski dengan jangkauan yang sedikit lebih pendek.
Keputusan untuk memilih mobil listrik di Indonesia agaknya tidak hanya dipengaruhi oleh harga unit, namun juga oleh pertimbangan mendalam mengenai jenis baterai, dampaknya terhadap lingkungan, serta ketersediaan infrastruktur pendukung.
Konsumen kini dihadapkan pada pilihan sulit: performa maksimal dengan konsekuensi lingkungan, atau efisiensi dan durabilitas dengan jangkauan yang mungkin terbatas?(*)