Sulawesinetwork.com - Perkumpulan Samsara Raksa Budaya bekerja sama dengan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia resmi menggelar Samsara Bamboo Festival 2026. Mengusung tema "Jagath Karana", festival ini diselenggarakan pada 22–24 Mei 2026 bertempat di Samsara Living Museum, Jungutan, Karangasem, Bali.
Acara ini diinisiasi sebagai respons konkret atas pesatnya pariwisata Bali yang selain membawa dampak positif sebagai penyumbang ekonomi dominan untuk Bali, juga memiliki kerentanan terhadap terjadinya dampak negatif pada aspek sosial budaya serta keseimbangan lingkungan. Melalui festival ini, bambu diangkat sebagai permodelan untuk mengimplementasikan peran sentralnya dalam kepercayaan, adat, dan tradisi Bali, sekaligus menjadi pondasi utama di dalam mewujudkan pariwisata regeneratif yang saat ini menjadi kebutuhan global.
Ida Bagus Agung Gunarthawa, Ketua Perkumpulan Samsara Raksa Budaya, mengungkapkan bahwa Bali belakangan ini kerap diperingatkan oleh bencana alam seperti banjir dan tanah longsor akibat ketidakseimbangan antara pesatnya pembangunan dengan upaya strategis pelestarian alam.
"Kita butuh strategi untuk memperkuat nilai dasar suatu daerah agar masyarakatnya percaya diri menjadi tuan di rumah sendiri. Samsara Bamboo Festival hadir untuk melahirkan pola pengembangan yang menyelaraskan antara preservasi budaya, konservasi lingkungan, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui pemanfaatan tanaman bambu," ujar Ida Bagus Agung Gunarthawa.
Bambu di Bali kerap dijuluki sebagai "emas hijau" karena urgensinya yang mencakup lima dimensi utama kehidupan masyarakat, yaitu spiritual (sarana Panca Yadnya), budaya (arsitektur dan instrumen seni), sosial (tradisi ngayah), lingkungan (konservasi air dan pencegahan erosi), serta ekonomi (komoditas ekspor dan material eco-tourism).
Baca Juga: Syahruni Haris Harap Bantuan Kurban Presiden Picu Kemajuan Peternakan Bulukumba
Selama tiga hari pelaksanaan, festival ini menghadirkan berbagai rangkaian kegiatan berbasis literasi yang inklusif dengan melibatkan elemen Pentahelix (akademisi, komunitas, pemerintah, pelaku bisnis, dan media):
Bamboo Talk: Rangkaian talkshow mengupas nilai lokal dan fungsi bambu untuk kehidupan modern.
Bamboo Stage: Panggung seni yang menampilkan karya seniman lokal berbasis literasi bambu.
Bamboo Show: Pameran dan lomba instalasi bambu oleh banjar/desa adat yang merepresentasikan konsep Sad Kertih.
Bamboo Market: Pasar tradisional komunal yang menyajikan kuliner, produk, dan kerajinan berbahan bambu.
Bamboo Movement: Aksi nyata penanaman pohon bambu sebagai wujud pelestarian lingkungan.
Baca Juga: TNI-POLRI Bersama Instansi Terkait Gelar Aksi Bersih Pantai di Bulukumba
Melalui sinergi bersama Yayasan Bambu Lingkungan Lestari, Samsara Living Museum yang merupakan partner strategis Indonesia Creative Cities Network (ICCN) berharap pihaknya mampu memformulasi regulasi yang berorientasi pada pelestarian alam sekaligus membangun perhatian dunia terhadap potensi besar bambu Indonesia. (*)