Karena itu, struktur program ICF disusun melalui berbagai bentuk aktivasi seperti cultural residency, placemaking, leaders talk, business matching, gastro diplomacy, hingga pengembangan rekomendasi kebijakan berbasis potensi lokal.
Sebagai titik awal pelaksanaan, kawasan Boon Pring Andeman dipilih sebagai lokasi peluncuran Indonesia Culture Festival karena dinilai merepresentasikan model pengembangan living museum berbasis komunitas dan konservasi lingkungan.
Kawasan tersebut sebelumnya telah diperkenalkan sebagai “Bamboo Living Museum” dalam ICCF Nusantaraya 2025 dan kini dikembangkan sebagai model pengelolaan kawasan budaya berbasis masyarakat.
Baca Juga: Andi Erlina Halmin Gelar Reses di Desa Sapobonto, Serap Aspirasi Warga Bulukumpa
Direktur Aktivasi Kebudayaan & Pusaka, Muhammad Anwar, menjelaskan bahwa Boon Pring memiliki kekuatan ekologis dan budaya yang relevan dengan visi ICF.
“Boon Pring memperlihatkan bagaimana budaya, konservasi lingkungan, dan ekonomi lokal dapat tumbuh dalam satu ekosistem kawasan yang saling terhubung. Tradisi seperti Metri Bambu menjadi contoh penting bahwa budaya lokal dapat menjadi fondasi pembangunan kawasan yang berkelanjutan,” ungkapnya.
Baca Juga: Jelang Idul Adha 1447 H, DPRD Bulukumba Cek Stabilitas Harga Sembako
ICF juga membuka peluang bagi kota dan kabupaten di Indonesia untuk terhubung dalam jejaring kolaborasi nasional ICCN.
Mekanisme keterlibatan dimulai dari pemetaan potensi daerah, pengajuan program kolaboratif, proses kurasi dan sinkronisasi, hingga implementasi bersama melalui festival, residency program, business matching UMKM, dan pengembangan living museum. (*)