Ketiga, efek konatif, yakni perubahan perilaku. Tidak sedikit orang mulai memperbaiki kualitas salatnya, lebih rajin bersedekah, menjaga lisan, memperbaiki hubungan dengan orang tua, atau mulai mengikuti kajian secara rutin setelah terpapar konten-konten Islami yang inspiratif. Pada titik ini, multimedia telah melampaui fungsi informatif dan berubah menjadi instrumen transformasi sosial.
Keberhasilan tersebut tidak terlepas dari berkembangnya jurnalisme multimedia. Informasi kini tidak lagi disampaikan hanya melalui tulisan, tetapi dipadukan dengan audio, foto, video, ilustrasi, infografis, hingga berbagai bentuk interaktivitas digital. Kombinasi berbagai unsur komunikasi itu membuat pesan lebih menarik, mudah dipahami, dan lebih lama tersimpan dalam ingatan.
Fenomena tersebut dapat dijelaskan melalui Teori Stimulus-Organisme-Respon (S-O-R). Konten multimedia berfungsi sebagai stimulus. Selanjutnya, setiap individu memproses pesan itu berdasarkan pengalaman hidup, tingkat pengetahuan, emosi, dan persepsinya sebagai organisme. Hasil akhirnya adalah respons berupa sikap maupun perilaku.
Baca Juga: Gelar Pengawasan di Bulukumba, H Patudangi Ajak Masyarakat Kawal Pelaksanaan Program Pemerintah
Karena setiap orang memiliki pengalaman psikologis yang berbeda, satu konten yang sama dapat menghasilkan respons yang berbeda pula. Ada yang memperoleh inspirasi, ada yang terdorong berubah, tetapi ada pula yang menafsirkannya secara keliru. Inilah sebabnya kualitas sebuah konten menjadi sangat menentukan.
Di sisi lain, kemudahan memproduksi konten juga menghadirkan tantangan yang tidak sederhana. Arus informasi yang begitu cepat membuka ruang bagi munculnya hoaks keagamaan, potongan ceramah yang kehilangan konteks, polarisasi kelompok, fanatisme digital, hingga kecenderungan memahami agama secara instan.
Ironisnya, algoritma media sosial sering kali bekerja bukan berdasarkan tingkat kebenaran, melainkan tingkat perhatian. Konten yang paling memancing emosi cenderung lebih cepat menyebar dibandingkan konten yang lebih ilmiah dan argumentatif. Akibatnya, ruang digital dipenuhi informasi yang ramai diperbincangkan, tetapi belum tentu benar.
Baca Juga: Dokter Icha Meninggal Dunia, Diduga Alami Depresi usai Diintimidasi Anggota DPRD
Di sinilah persoalan paling mendasar yang sedang kita hadapi.
Tantangan dakwah hari ini bukan lagi bagaimana membuat konten sebanyak-banyaknya. Tantangan sesungguhnya adalah menjaga agar kualitas dakwah tidak kalah oleh kecepatan distribusi informasi.
Kita membutuhkan jurnalisme multimedia Islami yang bukan hanya kreatif secara visual, tetapi juga kuat secara akademik, akurat dalam sumber, berimbang dalam penyajian, serta bertanggung jawab terhadap dampak psikologis yang ditimbulkannya.
Baca Juga: Menyamar Pakai Kerudung Saat Beraksi, Pelaku Pencurian Kios Dibekuk Resmob Polres Bulukumba
Kreator konten keislaman tidak cukup hanya mengejar jumlah tayangan, suka, atau pengikut. Mereka memikul amanah intelektual sekaligus amanah moral. Setiap narasi yang dipublikasikan berpotensi membentuk cara berpikir, cara merasakan, bahkan keputusan hidup jutaan orang.
Karena itu, viralitas tidak boleh menjadi ukuran utama keberhasilan dakwah digital.
Yang paling viral belum tentu paling benar.