Yang paling sering muncul belum tentu paling ilmiah.
Dan yang paling populer belum tentu paling mendidik.
Pada akhirnya, kualitas peradaban digital umat akan sangat dipengaruhi oleh kualitas informasi yang mereka konsumsi setiap hari. Jika ruang digital dipenuhi konten yang jujur, kredibel, dan mencerahkan, maka masyarakat akan tumbuh menjadi pribadi yang kritis sekaligus religius. Sebaliknya, jika ruang digital dipenuhi sensasi, provokasi, dan informasi yang tidak terverifikasi, maka yang lahir bukanlah masyarakat berilmu, melainkan masyarakat yang mudah terpengaruh oleh emosi.
Di era digital, umat tidak lagi hanya membaca agama. Mereka menonton agama, mendengar agama, merasakan agama, lalu membangun cara pandang hidup melalui pengalaman digital itu. Karena itulah, menjaga kualitas konten multimedia Islami bukan sekadar tugas para dai atau jurnalis, melainkan ikhtiar bersama untuk menjaga kualitas keberagamaan masyarakat di masa depan. ***
Artikel Terkait
Tingkatkan Keamanan Informasi, Diskominfo Bulukumba Bekali Admin Satu Data Indonesia melalui Workshop
Ruang Ingatan 2026 Hadirkan Aktivator Memori dan Jelajah Warisan Kota di Benteng Rotterdam
Ulang Tahun Syahruni Haris Disambut Doa Petani dan Nelayan Bulukumba
Sekretaris HMI Bulukumba Isranda Siap Bertarung di Musda KNPI, Usung Semangat Kolaborasi Pemuda
Turnamen Domino Hari Bhayangkara ke-80 Resmi Dibuka, Wakapolres Bulukumba Ajak Peserta Junjung Sportivitas
DPRD Bulukumba Terima Aksi Cipayung Plus, Massa Sampaikan Kritik dan Tuntutan terhadap Pemerintahan Prabowo-Gibran
Ketua Komisi I DPRD Bulukumba Jadi Juri Lomba Bertutur, Tegaskan Komitmen Perkuat Literasi Anak