info-sulawesi

Yang Viral Belum Tentu Benar: Dampak Psikologis Konten Multimedia Islami di Era Digital

Selasa, 30 Juni 2026 | 10:33 WIB
Arum Spink

 

Oleh: Arum Spink

Setiap hari, jutaan umat Islam membuka telepon genggamnya untuk belajar agama. Mereka tidak lagi menunggu jadwal pengajian di masjid, ceramah di televisi, atau membaca kitab secara langsung. Cukup dengan satu sentuhan layar, ribuan video dakwah, podcast keislaman, infografis, hingga potongan ceramah berdurasi kurang dari satu menit hadir silih berganti memenuhi beranda media sosial.

Fenomena ini menunjukkan bahwa ruang dakwah telah mengalami transformasi besar. Masjid masih tetap menjadi pusat pembinaan umat, tetapi media digital telah menjelma menjadi "ruang belajar" baru yang menjangkau siapa saja, kapan saja, dan di mana saja.

Namun, perubahan tersebut menyimpan pertanyaan yang jauh lebih penting daripada sekadar perkembangan teknologi. Apakah media digital hanya mengubah cara dakwah disampaikan? Ataukah ia juga sedang mengubah cara umat memahami agama, merasakan nilai-nilai keislaman, bahkan membentuk perilaku mereka?

Baca Juga: Fraksi PKS DPRD Bulukumba Soroti Keselamatan Wisata Usai Insiden Tenggelam di Apparalang

Pertanyaan inilah yang layak menjadi perhatian bersama.

Revolusi digital sesungguhnya bukan hanya revolusi teknologi, melainkan juga revolusi psikologi komunikasi. Pola konsumsi informasi masyarakat berubah secara drastis. Jika dahulu informasi diperoleh melalui surat kabar, radio, televisi, atau forum tatap muka, kini masyarakat lebih akrab dengan YouTube, TikTok, Instagram, podcast, dan berbagai platform digital lainnya.

Perubahan media melahirkan perubahan cara berpikir. Publik semakin terbiasa menerima informasi yang cepat, singkat, visual, dan interaktif. Akibatnya, konten keagamaan pun harus mampu menyesuaikan diri dengan karakter audiens digital tanpa kehilangan substansi ajaran Islam.

Baca Juga: Ketua DPRD Bulukumba Terima Aspirasi Cipayung Plus, Tegaskan Komitmen Kawal Suara Masyarakat

Dalam perspektif psikologi komunikasi, media memiliki kemampuan memengaruhi manusia melalui tiga ranah utama: kognitif, afektif, dan konatif.

Pertama, efek kognitif. Multimedia Islami memperluas pengetahuan masyarakat mengenai ajaran agama. Kajian yang dikemas dalam bentuk video pendek, infografis, animasi, maupun podcast membuat materi yang sebelumnya terasa berat menjadi lebih mudah dipahami. Visualisasi membantu otak menyerap informasi secara lebih cepat dibandingkan teks panjang.

Baca Juga: Workshop Produksi Suling Tradisional Sulsel Dibuka, Jadi Ruang Pewarisan Budaya Maritim kepada Generasi Muda

Kedua, efek afektif. Di sinilah kekuatan terbesar multimedia bekerja. Banyak orang merasa tersentuh setelah menyaksikan kisah hijrah, menangis ketika mendengar lantunan ayat Al-Qur'an yang dipadukan dengan visual yang menyentuh, atau memperoleh harapan baru melalui cerita sederhana tentang kesabaran dan keikhlasan. Konten digital bukan hanya menyampaikan informasi, tetapi juga membangun pengalaman emosional.

Halaman:

Tags

Terkini